Jual Beli dalam Pandangan Islam
Pengertian Jual
Beli
Dalam bahasa
arab, jual beli disebut mubaddah, artinya menukarkan sesuatu barang dengan yang
lainnya. Dalam Al Qur’an, kata jual beli terjemahan dari lafaz “bai” yang
menurut bahasa artinya memberikan sesuatu imbalan sesuatu atau menukarkan
sesuatu dengan sesuatu lainnya. Adapun menurut syara’ jual beli adalah
menukarkan suatu harta bendan dengan alat pembelian yang sah atau dengan harta
benda yang lain dan keduanya menerima untuk dibelanjakan dengan ijab dan kabul
menurut cara yang diatur oleh syara’.
Hukum Jual Beli
Hukum Jual
beli adalah halal atau boleh. Kebolehan jual beli ditetapkan di dalam Al Qur’an
dan hadis rasul.
يَا أَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُوَاْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ
بِالْبَاطِلِ إِلاّ أَ تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مّنْكُمْ
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang
batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka
sama-suka di antara kamu”
[QS. An-Nisaa’ : 29].
Rukun Jual-Beli
Jual beli dinyatakan sah
apabila memenuhi rukun dan syarat jual beli. Rukun jual beli berarti sesuatu
yang harus ada dalam jual beli. Apabila salah satu rukun jual beli tidak
terpenuhi, maka jual beli tidak dapat dilakukan. Menurut sebagian besar
ulama, rukun jual beli ada empat macam, yaitu:
a.
Ada penjual dan pembeli
b.
Ada barang atau harta yang diperjualbelikan
c.
Ada uang ata alat tukar yang sah (uang) sebagai
penukar barang
d.
Ijab Kabul : Ijab adalah perkataan penjual dalam
menawarkan barang dagangan, misalnya: “Saya jual barang ini seharga Rp
5.000,00”. Sedangkan kabul adalah perkataan pembeli dalam menerima jual
beli, misalnya: “Saya beli barang itu seharga Rp 5.000,00”. Imam Nawawi
berpendapat, bahwa ijab dan kabul tidak harus diucapkan, tetapi menurut adat
kebiasaan yang sudah berlaku. Hal ini sangat sesuai dengan transaksi jual beli
yang terjadi saat ini di pasar swalayan. Pembeli cukup mengambil barang yang
diperlukan kemudian dibawa ke kasir untuk dibayar.
Syarat Barang yang
Diperjualbelikan
1. Barang itu suci, artinya bukan barang najis.
2. Barang itu bermanfaat.
3. Barang itu milik sendiri.
Tidak Sah jual
beli kecuali pada barang yang dimiliki. (H.R. Abu Daud dari Amr bin Syu’aib)
4. Barang itu dapat
diserahterimakan kepemilikannya
5. Barang yang
dijual diketahui dengan jelas baik ukuran, bentuk, sifat dan bentuknya oleh
penjual dan pembeli.
Syarat Penjual dan
Pembeli
1. Jual beli
dilakukan oleh orang yang berakal agar tidak tertipu dalam jual beli. Allah
swt.berfirman dalam surah an-Nisaa’ ayat 5 :
“Dan janganlah
kamu serahkan kepada orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada
dalam kekuasaan) kamu yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupanmu.”
(Q.S.an-Nisaa’:5)
2. Penjual dan
pembeli sudah balihg atau dewasa, akan tetapi anak-anak yang belum baligh
dibolehkan melakukan jual beli untuk barang-barang yang bernilai kecil,
misalnya jual beli buku dan koran.
3. Jual beli dilakukan atas kemauan
sendiri ( tidak dipaksa ). Dalam Surah an-Nisaa’ ayat 29 Allah berfirman :
يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ
ﺍٰمَنُوْاﻻَ تَأْكُلُوْا أَمْوَآلَكُمْ بَيْنَكُمْ بِا لْبَاطِلِ اِﻻﱠ أَنْ تَكُوْنَ
تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ
Artinya:
“Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan
jalan yang batil ( tidak benar ) kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas
dasar suka sama suka di antara kamu.” (Q.S. an-Nisaa’: 29)
4.
Barang yang diperjualbelikan memiliki manfaat ( tidak mubazir )
Bentuk-bentuk Jual
Beli yang terlarang dalam Agama Islam
Adapun bentuk-bentuk jual beli
yang terlarang dalam agama Islam karena merugikan masyarakat di antaranya
sebagai berikut:
a.
memperjualbelikan barang-barang yang haram
b. jual beli
barang untuk mengacaukan pasar
c. jual beli
barang curian
d. jual beli
dengan syarat tertentu
e. jual beli
yang mengandung unsur tipuan
f. jual beli
barang yang belum jelas misalnya menjual ikan dalam kolam
g. jual beli
barang untuk ditimbun
Khiyar
Dalam jual beli sering terjadi
penyesalan di antara penjual dan pembeli. Penyesalan ini terjadi karena
kurang hati-hati, tergesa-gesa atau sebab lainnya. Untuk menghindari penyesalan
dalam jual beli, maka Islam memberikan jalan dengan khiyar. Khiyar
adalah hak untuk meneruskan jual beli atau membatalkannya. Maksudnya, baik
penjual atau pembeli mempunyai kesempatan untuk mengambil keputusan apakah
meneruskan jual beli atau membatalkannya dalam waktu tertentu atau karena sebab
tertentu.
Macam – macam
Khiyar
1. Khiyar
Majlis
Khiyar majlis adalah hak bagi
penjual dan pembeli yang melakukan akad jual beli untuk membatalkan atau
meneruskan akad jual beli selama mereka masih belum berpisah dari tempat akad.
Apabila keduanya telah berpisah dari satu majlis, maka hilanglah hak khiyar
majlis ini. Rasulullah SAW bersabda:
“Dua orang
yang berjual beli, boleh memilih (akan meneruskan jual beli atau tidak) selama
keduanya belum berpisah dari tempat akad.” (H.R. Bukhori dari Hakim
bin Hizam)
2. Khiyar
Syarat
Khiyar syarat adalah suatu keadaan
yang membolehkan salah seorang atau masing-masing orang yang melakukan akad
untuk membatalkan atau menetapkan jual belinya setelah mempertimbangkan dalam
1, 2, atau 3 hari. Setelah waktu yang ditentukan tiba, maka jual beli
harus segera ditegaskan untuk dilanjutkan atau dibatalkan. Waktu khiyar syarat
selama 3 hari 3 malam terhitung waktu akad. Sabda Rasulullah Muhammad SAW:
”Engkau
boleh berkhiyar pada semua barang yang telah engkau beli selama tiga hari tiga
malam.” (H.R. Ibnu Majah dari Muhammah bin Yahya bin Hibban)
3.
Khiyar ‘aibi
Khiyar ‘aibi adalah hak untuk
memilih meneruskan atau membatalkan jual beli karena ada cacat atau kerusakan
pada barang yang tidak kelihatan pada saat ijab kabul. Pada masa sekarang,
untuk memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pembeli, para produsen dan
penjual barang biasanya memberikan jaminan produk atau garansi. Pemberian
garansi juga dimaksudkan untuk menghindari adanya kekecewaan pembeli terhadap
barang yang dibelinya. Berkaitan dengan khiyar ‘aibi ini, Rasulullah SAW
memberikan tuntunan dengan sabdanya :
“Dari
Aisyah r.a. berkata bahwasanya seorang laki-laki telah membeli seorang budak,
budak itu tinggal beberapa lama dengan dia, kemudian kedapatan bahwa budak itu
ada cacatnya, terus dia angkat perkara itu dihadapan Rasulullah saw. Putusan
dari beliau, budak itu dikembalikan kepada penjual.” (H.R. Abu Dawud)
Manfaat Khiyar
Manfaat khiyar adalah untuk menghindari adanya
rasa tidak puas terhadap barang yang dibeli, menghindari penipuan, dan untuk
membina ukhuwah antara penjual dan pembeli. Dengan adanya khiyar, penjual dan
pembeli merasa puas.
Komentar
Posting Komentar