Contoh Cerpen
DARI
DENDAM MASA LALU
Ia menyesap pelan minumannya dan
memandang keluar jendela. Hujan turun lagi, mengguyur ibu kota yang padat. Namun
suasana sejuk tak mampu menenangkan hatinya. Amarah menguasainya, namun disitu
juga ada keraguan. Ia menarik napas dalam – dalam. Yah... seperti inilah jalan
hidupnya, mau bagaimanapun ini sudah takdir kehidupannya. Sedih, marah, takut, sakit,
saat mengingat kenangan itu. Yah.. kenangan dimana saat ia benar – benar terpuruk.
3 tahun lalu...
“Apa yang kau inginkan ?”. ucap Risa
dengan kesal.
“Aku ingin balas dendam padamu,
bukankah aku sudah mengucapkannya tadi”.
Kata lelaki itu dengan santai.
“Apa salah ku ? aku bahkan baru
mengenalmu 2 jam yang lalu”. Risa tak dapat menahan kekesalannya lagi.
“Hahaha.. aktingmu sangat bagus
sekali, haruskah aku memberimu piala oscar ?”. ucap lelaki itu dengan sinis.
“Terserah padamu !”. Risa pun
meninggalkan lelaki tersebut dengan menghentakan kakinya yang menandakan bahwa
ia sedang kesal.
“Sampai jumpa lagi Risa
Aprodita”. Teriak lelaki tersebut saat Risa sudah pergi menjauh.
Jedarr.. Risa membanting pintu
apartemennya sambil menggerutu.
“Apa sih mau lelaki itu ! bahkan
aku tak tau namanya. Dia bertingkah seakan akan ia mengenalku sudah lama. Dan
apa katanya ? balas dendam ? memang apa yang sudah kulakukan padanya ?”. ucap
Risa sambil merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya sambil memejamkan
matanya, dan perlahan kegelapan mulai menyelimutinya.
Keesokan harinya...
Risa melihat jam tangan yang
melingkar cantik dipergelangan tangan kirinya. Masih ada 7 menit untuk sampai
dikantor, batin Risa. Ia mulai mempercepat langkahnya. Risa sampai disana tepat
waktu, tidak kurang dan tidak lebih. Ia segera menuju ruang kerjanya dan
menyelesaikan tumpukan laporan.
“Risa ! ada paket untukmu”.
Panggil Mita, salah satu pekerja disini.
“paket ? dari siapa ?”. Jawab
Risa dengan heran, karena baru kali ini ia menerima paket saat berada
dikantornya.
“Hei, kau pikir aku tau, aku
menerimanya dari satpam yang bertugas hari ini, beliau tidak bisa
menyerahkannya secara langsung karena suatu alasan, jadi beliau menyuruhku
menyampaikannya padamu”. Ucap Mita panjang lebar.
“Hm baiklah, terimakasih Mita”.
Ucap Risa tulus, namun Mita tak menjawabnya dan melenggang pergi.
Risa mulai membuka paketnya,
setelah paket dibuka..
“Ahhhhh...”. Teriak Risa
ketakutan.
“Hai Risa, ada apa ?”. Tanya Gita
khawatir. Gita adalah sahabat terbaik Risa. Gita berlari dari ruangannya yang
bersebelahan dengan ruangan Risa saat mendengar teriakan sahabatnya, Risa.
“Di...dis..sanna ada foto yang
berlumuran darah, aku takut sekali”. Risa terisak dipelukan Gita.
“Sudah tidak papa, jangan terlalu
dipikirkan, mungkin itu hanya orang iseng”. Ucap Gita menenangkan sambil
mengelus lembut punggung Risa. Setelah beberapa menit Risa mulai tenang, meski
isakannya masih terdengar.
“Terimakaih Gita, kau selalu ada
untukku”. Risa mengendurkan pelukannya
dan menatap Gita sambil tersenyum.
“Tentu saja, siapa lagi yang mau berteman
dengan gadis cengeng sepertimu”. Mereka pun tertawa bersama dan melupakan
kejadian yang baru saja terjadi.
Risa meregangkan
ototnya. Ah akhirnya selesai juga, batin Risa. Ia melihat jam tangannya dan
ternyata waktu sudah menunjukan pukul 6 sore, keadaan kantor pun mulai sepi
karena jam kerja berakhir sekitar 1 jam yang lalu. Risa pun mulai membersihkan
barang – barangnya dan melangkah keluar dari bangunan berlantai 15 itu. Risa segera
bergegas menuju pos satpam, ia ingin menanyakan dari siapa paket yang
diterimanya tadi siang. Namun jawaban yang diterimanya membuat ia kecewa,
karena satpam tersebut mengatakan bahwa pengirim paket itu tidak memberi tahu dari
siapa paket mengerikan tadi. Karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan, Risa
memilih untuk melupakan hal tersebut dan selalu berpikir positif bahwa pengirim
paket tersebut hanya iseng, namun kata – kata yang tertulis dibalik fotonya
yang berlumuran darah itu terus terngiang dikepalanya. “Kau akan meraskan apa yang kurasakan”. Apa maksud dari kata – kata
tersebut ? apakah paket itu dari orang yang membencinya ?. Semua ini membuatku
sakit kepala, batin Risa sambil memijat pelipisnya yang brdenyut. Suara
ponselnya membuat ia teralih dari pikirannya, ia segera merogoh sakunya dan
mengambil ponselnya, namun saat melihat nomer tak dikenal di layar ponselnya,
ia mulai ragu ingin mengangkatnya atau tidak, namun akhirnya ia mengangkatnya.
“Halo.. dengan Risa disini”. Ucap
Risa berusaha tenang.
“Hai apa kau udah menerima
paketku, sayang ?”. Suara ini terasa tidak asing ditelinga Risa.
“K.. kau siapa ?”. Perasaannya
mulai tidak tenang, foto belumuran darah terpampang jelas dikepalanya.
“Wah kau melupakanku secepat itu,
padahal kita baru bertemu kemarin malam”. Iyah Risa ingat, lelaki menyebalkan
yang bertemu dengannya kemaren malam saat ia pulang kerja.
“Apa yang kau inginkan ?”. Ucap
Risa ketus.
“Wah kau memang pelupa, aku juga
sudah mengatakan tujuanku kemaren malam padamu namun kau juga sudah
melupakannya, biar ku ingatkan lagi tujanku, aku ingin balas dendam padamu, dan
ingat ! jangan anggap remeh kata – kataku dipaket spesial yang kukirimkan
padamu tadi siang. Sampai jumpa lagi Risa !”. Telfon pun berakhir.
Dan
sejak saat itulah hidupnya mulai tidak tenang, ia sering menerima teroran yang
membuatnya hampir gila. Berat badannya turun drastis, ia juga hampir dipecat
karena tidak fokus saat rapat dengan klien penting. Gita merasakan ada yang
disembunyikan Risa, namun saat ditanya Risa selalu berkata “Aku baik – baik saja”. Risa sering melamun, bahkan ia seperti
mayat hidup, berjalan tanpa tujuan. Kadang Gita merasa prihatin padanya, namun
apa yang bisa dilakukannya, Risa tak mau membagi masalahnya.
“Bagaimana keadaanya ? apa dia
sudah menderita ?”. ucap lelaki itu dengan mengangkat sedikit sudut bibirnya.
“Dia seperti apa yang kau
inginkan, tuan”. Jawab lelaki berjas dan celana hitam itu sambil menunduk
hormat.
“Bagus, teruskan sesuai rencana”.
Ucap lelaki itu dengan nada tak ingin dibantah.
“Baik, Tuan”. Lelaki berjas hitam
itu pun meninggalkan tuannya.
“ini masih belum seberapa, Risa.
Aku akan menunjukan rasa sakit itu padamu”. Ucap lelaki itu sambil menatap
keluar jendela.
2
minggu berlalu, tidak ada kemajuan dari keadaan Risa, malah ia semakin terlihat
menyeramkan. Gita sudah mengusulkan untuk cuti dan berlibur keluar negeri namun
Risa menolaknya dengan alasan ia mabuk pesawat, tentu saja Gita tak
mempercayainya. Saat ini ia berada di depan ruangan Risa, ia melihat Risa
seperti mayat hidup dia tidak tega dan akhirnya ia memilih untuk kembali
keruangannya, namun saat akan melangkah ia mendengar Risa berbicara dengan
seseorang melalui ponselnya. Ia mendengarkan semua pembicaraan Risa. Sekarang
Gita tau mengapa Risa menjadi seperti ini, karena teroran saat itu masih
berlanjut sampai saat ini.. Ia merasa kesal kepada Risa, mengapa ia tidak
menceritakan kepadanya dan memendam masalahnya sendiri. Sesampai diruangannya,
Gita pun menelfon salah satu mata – mata swasta kepercayaannya untuk
menyelidiki siapa dalang dibalik semua ini. Setelah menunggu 1 jam, informasi
yang diinginkannya pun ia dapatkan. Setelah membacanya sekarang ia tahu siapa
dalang dibalik teroran yang diterima Risa, ialah lelaki asing bernama Denny Neandra
Rullyan. Namun Gita merasa tidak asing dengan nama terakhir lelaki bernama
Denny itu, ia mencoba mengingat – ngingat apakah ia pernah mengenal nama
tersebut. Dan sekarang ia ingat, gadis berumur 18 tahun bertubuh mungil dengan
kulit kuning langsat, rambut sebahu, dan kaca mata besar, tak lupa seragam
sekolah yang kedodoran, bernama Alisa Saputri Rullyan. Sekarang ia tahu, apa
maksud dari semua teroran ini. Gita segera berlari keruangan Risa, namun
sesampainnya disana ia dikejutkan dengan keadaan Risa yang mengenaskan, darah
mengalir dari pergelangan tangannya. Gita berteriak histeris, ia segera
menelfon ambulance dan beberapa menit kemuadian ambulance datang membawa Risa
kerumah sakit.
3
jam sudah namun pintu terkutuk itu belum juga terbuka. Gita sangat khawatir
namun ia hanya bisa berdoa. Setelah menunggu lama akhirnya pintu terbuka.
Dokter berkata tusukan pada pergelangan tangannya tidak terlalu dalam, sehingga
urat nadinya tak terpotong, dan operasinya berjalan dengan lancar. Risa pun
dipindahkan keruangan yang lebih khusus.
2
hari kemudian, Risa sadar. Gita begitu senang mengetahui Risa sudah sadar. Ia
segera mencecar Risa dengan sejuta pertanyaannya, dan Risa menceritakan segala
masalahnnya tak terkecuali tentang teroran itu. Lama mereka berbincang, dan
akhirnya Gita meminta izin pulang karena ada adeknya akan datang
keapartemennya. Setelah Gita pergi,
beberapa saat kemudian masuklah laki – laki yang membuat Risa menjadi
seperti ini.
“Apa maumu ?”. Tanya Risa sinis.
“Bagaimana kabarmu ?”. Denny menghiraukan
pertanyaan Risa.
“Apa kah kau sudah puas ?”. Desis
Risa murka.
“Hahahaha.. tentu saja belum, ini
belum seberapa”. Ucap Denny santai.
“Mengapa kau melakukan ini padaku
?”. Risa tak dapat menahan air matanya lagi, ia merasa hidupnya begitu mengerikan
setelah bertemu dengan Denny.
“Kau sudah menghancurkan adik
semata wayangku, Alisa. Kau membunuhnya dengan bullyan dan mulut pedasmu itu.
Kau membuatnya menderita dan akhirnya bunuh diri”. Jawab Denny dengan suara
hampir berteriak.
“Aku bahkan tak mengenal adekmu,
jangankan adekmu, aku bahkan tak mengenalmu”. Bentak Risa dengan air mata
bercucuran.
Namun saat Denny akan menjawab,
pintu ruangan Risa terbuka dan masuklah Gita.
“Dia berkata jujur, Denny”. Ucap
Gita sambil menatap Denny.
“Gita, mengapa kau masih disini
?”. Tanya Risa sambil menghapus air matanya.
“Maafkan aku Risa, aku hanya
berbohong padamu, aku tahu lelaki ini selalu mengawasimu, ia ingin meneimu
namun karena ada aku disini ia tidak jadi menemuimu. Jadi aku berpura – pura
izin pulang, aku ingin tau apa yang ingin dilakukan lelaki ini saat kau
sendirian diruangan ini”. Jawab Gita panjang lebar, sambil menatap Risa.
“Denny, aku tau kau dendam kepada
Risa atas kematian adikmu, Alisa. Tapi kau salah orang, seharusnya kau
membalaskan dendammu kepada Rika, kembaran Risa”. Sambung Gita.
“Kau kembar ?”. Tanya Denny
kepada Risa.
“Jangan bilang kau tida
mengetahuinya ?”. Desis Risa sinis.
“Tapi kau tak peru mengotori
tanganmu untuk membunuh Rika, karena ia sudah meninggal dunia karena bunuh diri
1 tahun yang lalu”. Ucap Gita.
Denny merasa bersalah kepada
Risa, ia sudah membuat Risa menderita tanpa alasan.
“Maafkan aku, Risa. Aku tak
memgetahui bahwa kau kembar dengan seseorang yang membuat adikku bunuh diri”.
Ucap Denny tulus.
“Hahaha... apa setelah kau minta
maaf, aku akan baik – baik saja ? aku tak akan menerima maafmu itu. Kau juga
harus menderita sepertiku”. Risa mencabut jarum infusnya dan segera pergi dari
ruangannya. Ia tak menghiraukan panggila Gita dan lelaki gila itu. Aku harus
pergi dan memikirkan bagaimana cara membalaskan dendamku kepadanya, batin Risa.
Dan
disinilah Risa berada, duduk dan menikmati minumannya. Dia akan kembali untuk
membalaskan dendamnnya.
THE END
Komentar
Posting Komentar